Notifikasi :

1. Saya sibuk dengan jadwal kuliah, jadi bakal jarang update.

2. AFA Singapore bikin iri.

3. Musim senang-senang hampir berakhir.

4. Dilanjutkan musim galau yang akan datang

Popular Post

About Me

Foto saya
Orang kurang kerjaan yang sibuk internetan
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Posted by : KIV Kamis, 10 Oktober 2013

 “Negeri di bawah kabut”? Mungkin masih banyak dari kita belum pernah dengar bahkan belum tahu apakah sebenarnya nama itu. Mungkin ada yang menebak kalau itu judul buku, tapi itu salah. Kalau ada yang menebak itu judul film, kalian hamper benar. Lebih tepatnya “Negeri di Bawah Kabut” adalah film dokumenter yang garis besarnya menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di sebuah desa yang secara literal tinggal di bawah kabut. 




Pada satu kesempatan lebih tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2013 kemarin, diadakan sebuah acara diskusi bersama mengenai film “Negeri di Bawah Kabut”. Sebuah film documenter arahan Shalahuddin Siregar yang pernah diputar dan memenangkan berbagai nominasi, baik di dalam maupun di luar negeri. Berdurasi selama kurang lebih 100 menit, para penonton disajikan hasil dari kerja keras Shalahuddin Siregar bersama kru-kru yang turut membantunya selama pembuatan film berlangsung.

Tapi sebelum menonton film ini, acara dibuka terlebih dahulu oleh moderator. Acara yang akhirnya dimulai juga setelah harus telat selama sekitar setengah jam dari jadwal yang sudah ditetapkan. Di segmen ini, moderator memberikan sedikit penjelasan mengenai film berjudul “Negeri di Bawah Kabut” yang akan segera ditayangkan. Tak lupa, moderator memperkenalkan sang produser film, Shalahuddin Siregar yang mau menyempatkan waktunya untuk datang ke acara yang dilangsungkan di dalam ruang audio-visual FEB UGM. Meskipun terjadi sedikit kesalahan teknis, film pun diputar.

­­Film yang berjalan saaangat lambat. Hal itu adalah fakta yang tak bisa dielakkan saat menonton, mengakibatkan orang-orang yang tidak tahan dengan kecepatan alurnya segera meninggalkan tempat meskipun film belum terlalu lama dimulai. Meskipun begitu, dengan pace yang tidak mengenakkan ini justru membuat penonton yang serius akan merasakan bagaimana rasanya benar-benar tinggal di sebuah desa kaki gunung merbabu yang sangat sering diselimuti kabut.

Seratus menit berlalu, dan credit roll pun beranjak naik. Lampu-lampu kembali menyala, menusuk mata yang sudah mulai terbiasa dengan gelap….

Inti dari film ini antara lain menceritakan bagaimana kehidupan para penduduk Desa Genikan yang masih terbilang tradisional di tengah kehidupan modern yang serba mutakhir. Penduduk desa yang notabene petani bisa dibilang kewalahan saat menghadapi musim tani yang sudah mulai tidak sesuai dengan sistem penanggalan jawa dikarenakan efek global warming yang kini tengah melanda dunia. Hal ini, baik secara langsung ataupun tidak, mengakibatkan Arifin mengalami hambatan untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk bersekolah kini memang gratis, tapi biaya komplementer lainnya? Karena itu ayah dari Arifin terpaksa harus mencari dana kesana-kemari meskipun harus ditolak secara halus berulang kali, yang untungpada akhirnya nya ada yang mau membantu meskipun dana yang diberikan tidak seberapa. Hal tersebut menggambarkan betapa kentalnya kekeluargaan yang terjalin oleh para penduduk desa yang selama ini mereka tinggali. 

Selain itu kita juga disuguhkan dengan bagaimana petani desa Genikan berjualan ke pasar sejak pagi buta dan baru kembali ke rumah setelah matahari sudah menggantung tinggi, serta berbagai adegan-adegan unik lainnya yang bisa dibilang tidak mungkin untuk dapat ditemui di kota-kota besar.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dikarenakan keterbatasan waktu yang tesedia, panitia hanya mau menerima segelintir pertanyaan yang kuran lebih berisi trivia seputar film yang telah ditonton tadi dan menghasilkan hal-hal yang unexpected dari pembuatan sebuah film documenter. Durasi selama 2 tahun untuk riset, dan 3 tahun pembuatan film tak lupa dengan editing-nya. Dengan total 5 tahun produksi untuk film berdurasi 100 menit, jelas ini bukan perkara mudah bagi para kru untuk merekam kehidupan masyarakat “negeri kabut” apalagi dengan iklim serta cuacanya yang sangat tidak akrab, baik itu untuk alat yang digunakan maupun dari pihak kru sendiri. Terkesan dengan perilaku penduduk yang berjalan cukup natural? Ya, mereka seperti itu karena semua itu terjadi tanpa skrip sama sekali. Dengan kata lain apa yang digambarkan dengan film ini adalah apa yang benar-benar terjadi di desa itu. Perilaku mereka seperti itu juga tidak lepas dari keterbiasaan mereka dengan kamera yang berada di sekitar mereka selama 2 tahun riset berlangsung. 

Tak lama setelah segmen akhir usai, plakat diberikan oleh pihak panitia kepada Shalahuddin Siregar yang telah bersedia untuk hadir dalam acara yang terbilang kecil ini. Setelah itu acara benar-benar ditutup oleh moderator, menandakan pula bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh Equilibrium pada hari itu telah usai.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Kiv's Note - Kurumi Tokisaki - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Redesigned by R.F.Aditya -