Notifikasi :

1. Saya sibuk dengan jadwal kuliah, jadi bakal jarang update.

2. AFA Singapore bikin iri.

3. Musim senang-senang hampir berakhir.

4. Dilanjutkan musim galau yang akan datang

Popular Post

About Me

Foto saya
Orang kurang kerjaan yang sibuk internetan
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Posted by : KIV Kamis, 26 September 2013




 1.1: wew.... entah knapa langit ini terasa berbeda

Kalian sudah pernah mendengar tentang kebijakan langit terbuka ASEAN? Ya.. mungkin bagi kalian yang belum pernah mendengar tentang kebijakan itu akan sangat terdengar asing… aku sendiri baru tahu mengenai hal ini seminggu yang lalu, saat salah seorang dosen di kampus menjelaskan sedikit seputar perekonomian Indonesia dan masa depannya. 

Inti dari kebijakan langit terbuka ini adalah  kebebasan terbang bagi Negara-negara yang telah melakukan kesepakatan. Kebijakan ini sebenarnya sudah mulai ditetapkan sejak 2003, tapi mulai tahun ini hingga 2015 mendatang, kebijakan dengan nama beken “Open Skies Policy” ini akan dilaksanakan hingga akhirnya diberlakukan secara penuh. Semua maskapai penerbangan akan bebas terbang dan mendarat di bandara-bandara yang ada di 10 negara ASEAN termasuk Indonesia. Mendengar semua tadi, ada satu hal yang kemudian muncul di benakku “apakah Indonesia siap untuk semua ini?”


1-2: ini bandara atau stadion? mirip...

Berdasarkan info yang pernah aku baca, Indonesia sudah memiliki 26 bandara berkelas internasional. Dimana jumlah itu bisa terbilang cukup banyak bila dibandingkan dengan Negara tetangga kita singapura yang hanya memiliki satu bandara. Perihal jumlah bandara ini sudah merupakan perihal kompleks meskipun banyak orang yang bilang kalau ini menguntungkan.

Ada berbagai hal positif maupun negative yang ditawarkan oleh kebijakan ini. Dalam segi positif, maskapai kita dapat terbang ke luar dan dalam negeri dengan bebas dengan tujuan pariwisata. Negara kita yang notabene memiliki destinasi wisata yang melimpah bisa saja menjadi sentral dari “perang” yang kelak akan muncul bila hal ini benar-benar telah doterapkan secara penuh. Tapi dari sisi negative, kebijakan ini bisa saja menjadi boomerang bagi Negara kita. Indonesia sudah terkenal dengan mata yang silau akan hal-hal yang berbau luar negeri. Bahkan barang buatan local yang diberi stempel luar negeri saja bisa laris manis layaknya kacang goreng di masa keemasannya. 

1-3: dum dum dum... hanya pesawat sedang terbang

Kalau open skies sudah terlaksana, Indonesia berkemungkinan besar menjadi sasaran empuk bagi para “pemburu” luar negeri. Apalagi dengan perilaku “silau” yang kita miliki, kemungkinan pihak asing untuk menancapkan taringnya ke daging Negara ini menjadi semakin besar. Orang-orang akan lebih memilih maskapai asing dengan destinasi di luar negeri daripada maskapai local dengan arah tujuan dalam negeri. Hal tersebut bisa saja terlaksana karena biaya perjalanan mungkin akan semakin murah dengan terciptanya kebijakan ini.

Kebijakan ''Langit Terbuka'' memang telah dibarengi niat baik oleh para anggota ASEAN untuk melakukan pemasaran destinasi secara bersama seperti disepakati dari ajang ASEAN Tourism Forum di Brunei, Januari lalu. Akan tetapi, niat baik ini jangan sampai membuat Indonesia berpangku tangan, karena dalam dunia dagang, kepentingan negara sendiri tetap akan menonjol.

Alih-alih akan melakukan promosi bersama, tiap negara anggota ASEAN akan sibuk memasarkan destinasinya dan diam-diam akan menyatakan ''perang dagang destinasi wisata'' dengan anggota lain. Kasus penggunaan ikon budaya Indonesia dalam promosi pariwisata Malaysia merupakan contoh nyata. Semangat kebersamaan ASEAN patut dipegang tetapi kesadaran meningkatkan kualitas diri tidak boleh kendur.


sumber (dengan beberapa perubahan)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2013 Kiv's Note - Kurumi Tokisaki - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Redesigned by R.F.Aditya -