Notifikasi :

1. Saya sibuk dengan jadwal kuliah, jadi bakal jarang update.

2. AFA Singapore bikin iri.

3. Musim senang-senang hampir berakhir.

4. Dilanjutkan musim galau yang akan datang

Popular Post

About Me

Foto saya
Orang kurang kerjaan yang sibuk internetan
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Recent post

Wew... selamat siang, hari ini aku mendengar sebuah kabar yang cukup menyakitkan dari tempat reparasi komputer yang menangani lepi kesayanganku yang tiba-tiba saja memasuki tahap nge-lag dewa... In worst scenario, all of my data stored will be lost... sigh... dan sekarang aku cukup kehilangan semangat buat ngelanjutin kuliah -_-

Anyway, sekarang ayo kembali ke topik, tentang visual novel. Ada yang tahu visual novel? mungkin sudah cukup banyak yang mengenal istilah ini, tapi tidak pula menutup kemungkinan akan ada orang-orang yang bahkan belum pernah mendengar istilah ini.

"apa itu sejenis novel?"

Ya... bisa dibilang begitu, tapi visual novel sendiri merupakan gabungan dari berbagai aspek, text layaknya sebuah novel, gambar dengan desain yang seperti animu, tak lepas pula peran musik yang seringkali digarap dengan cukup serius.

bagi kalian yang kurang kerjaan seperti saya, coba saja baca pengertian lebih lanjut mengenai vn di sini.

kalian tahu fate/stay night?


ato kalo mau yang lebih dewa lagi clannad?


Kalian merasa ada yang berbeda dari 2 gambar diatas. Yup, itu karena dua gambar tadi berasal dari yang sebenarnya berasal dari sebuah media yang kurang dikenal bernama visual novel.

selain itu, juga masih banyak judul-judul lain yang berasal dari VN, dan tentu saja saya malas untuk menuliskannya di sini. Meskipun begitu, aku akan memberikan sedikit judul-judul yang seharusnya tidak asing lagi di telinga kalian. Judul-judul berikut yang berkesan bagiku, sebenarnya masih ada yang lain, tapi biasanya fail, kalo ga karena art dari animu-nya yang bikin ak ga kuat nonton dan beralih ke VN-nya saja.

Chaos;Head
Little Busters
Steins;Gate
Robotic;Notes
Yosuga no Sora 

Gimana? sudah mulai tertarik?
Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat visual novel kurang dikenal di masyarakat jejepangan, namun pada umumnya adalah faktor bahasa yang masih menggunakan bahasa jepang. Memang sih, ada beberapa pihak translator. Ada yang resmi seperti mangagamer dan jastUSA, serta yang cukup kontroversial MoeNovel dengan If My Heart Had WIngs yang dirilisnya beberapa saat silam.

Ada juga beberapa translator yang berasal dari fans ang ingin menyebarluaskan visual novel ke dunia luas, beberapa yang terkenal antara lain ada TLwiki dengan banyak proyek dari VN yang melegenda di dunia VN.

Soal kualitas? aku berani bilang kalo fan-translator lebih baik dari pihak resmi, bahkan perusahaan resmi tersebut seringkali membeli skrip yang sudah ditranslate dari pihak fan translator, bahkan hingga merekrut mereka ke dalam perusahaan mereka.

Kalo misalkan kalian ingin mencoba membaca VN, aku saranin kalian membaca dari list yang aku berikan di bawah, itu list pribadi sih dan memang sengaja tidak aku update, karena berbagai hal.

VNDB

Untuk informasi-informasi selanjutnya akan aku jelaskan lain kesempatan,dikarenakan keterbatasan waktu dan tempat.

Sampai Jumpa :3


A Prologue to Visual Novel

 “Negeri di bawah kabut”? Mungkin masih banyak dari kita belum pernah dengar bahkan belum tahu apakah sebenarnya nama itu. Mungkin ada yang menebak kalau itu judul buku, tapi itu salah. Kalau ada yang menebak itu judul film, kalian hamper benar. Lebih tepatnya “Negeri di Bawah Kabut” adalah film dokumenter yang garis besarnya menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat di sebuah desa yang secara literal tinggal di bawah kabut. 




Pada satu kesempatan lebih tepatnya pada tanggal 5 Oktober 2013 kemarin, diadakan sebuah acara diskusi bersama mengenai film “Negeri di Bawah Kabut”. Sebuah film documenter arahan Shalahuddin Siregar yang pernah diputar dan memenangkan berbagai nominasi, baik di dalam maupun di luar negeri. Berdurasi selama kurang lebih 100 menit, para penonton disajikan hasil dari kerja keras Shalahuddin Siregar bersama kru-kru yang turut membantunya selama pembuatan film berlangsung.

Tapi sebelum menonton film ini, acara dibuka terlebih dahulu oleh moderator. Acara yang akhirnya dimulai juga setelah harus telat selama sekitar setengah jam dari jadwal yang sudah ditetapkan. Di segmen ini, moderator memberikan sedikit penjelasan mengenai film berjudul “Negeri di Bawah Kabut” yang akan segera ditayangkan. Tak lupa, moderator memperkenalkan sang produser film, Shalahuddin Siregar yang mau menyempatkan waktunya untuk datang ke acara yang dilangsungkan di dalam ruang audio-visual FEB UGM. Meskipun terjadi sedikit kesalahan teknis, film pun diputar.

­­Film yang berjalan saaangat lambat. Hal itu adalah fakta yang tak bisa dielakkan saat menonton, mengakibatkan orang-orang yang tidak tahan dengan kecepatan alurnya segera meninggalkan tempat meskipun film belum terlalu lama dimulai. Meskipun begitu, dengan pace yang tidak mengenakkan ini justru membuat penonton yang serius akan merasakan bagaimana rasanya benar-benar tinggal di sebuah desa kaki gunung merbabu yang sangat sering diselimuti kabut.

Seratus menit berlalu, dan credit roll pun beranjak naik. Lampu-lampu kembali menyala, menusuk mata yang sudah mulai terbiasa dengan gelap….

Inti dari film ini antara lain menceritakan bagaimana kehidupan para penduduk Desa Genikan yang masih terbilang tradisional di tengah kehidupan modern yang serba mutakhir. Penduduk desa yang notabene petani bisa dibilang kewalahan saat menghadapi musim tani yang sudah mulai tidak sesuai dengan sistem penanggalan jawa dikarenakan efek global warming yang kini tengah melanda dunia. Hal ini, baik secara langsung ataupun tidak, mengakibatkan Arifin mengalami hambatan untuk melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk bersekolah kini memang gratis, tapi biaya komplementer lainnya? Karena itu ayah dari Arifin terpaksa harus mencari dana kesana-kemari meskipun harus ditolak secara halus berulang kali, yang untungpada akhirnya nya ada yang mau membantu meskipun dana yang diberikan tidak seberapa. Hal tersebut menggambarkan betapa kentalnya kekeluargaan yang terjalin oleh para penduduk desa yang selama ini mereka tinggali. 

Selain itu kita juga disuguhkan dengan bagaimana petani desa Genikan berjualan ke pasar sejak pagi buta dan baru kembali ke rumah setelah matahari sudah menggantung tinggi, serta berbagai adegan-adegan unik lainnya yang bisa dibilang tidak mungkin untuk dapat ditemui di kota-kota besar.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dikarenakan keterbatasan waktu yang tesedia, panitia hanya mau menerima segelintir pertanyaan yang kuran lebih berisi trivia seputar film yang telah ditonton tadi dan menghasilkan hal-hal yang unexpected dari pembuatan sebuah film documenter. Durasi selama 2 tahun untuk riset, dan 3 tahun pembuatan film tak lupa dengan editing-nya. Dengan total 5 tahun produksi untuk film berdurasi 100 menit, jelas ini bukan perkara mudah bagi para kru untuk merekam kehidupan masyarakat “negeri kabut” apalagi dengan iklim serta cuacanya yang sangat tidak akrab, baik itu untuk alat yang digunakan maupun dari pihak kru sendiri. Terkesan dengan perilaku penduduk yang berjalan cukup natural? Ya, mereka seperti itu karena semua itu terjadi tanpa skrip sama sekali. Dengan kata lain apa yang digambarkan dengan film ini adalah apa yang benar-benar terjadi di desa itu. Perilaku mereka seperti itu juga tidak lepas dari keterbiasaan mereka dengan kamera yang berada di sekitar mereka selama 2 tahun riset berlangsung. 

Tak lama setelah segmen akhir usai, plakat diberikan oleh pihak panitia kepada Shalahuddin Siregar yang telah bersedia untuk hadir dalam acara yang terbilang kecil ini. Setelah itu acara benar-benar ditutup oleh moderator, menandakan pula bahwa kegiatan yang dilaksanakan oleh Equilibrium pada hari itu telah usai.


Negeri di Bawah Kabut




 1.1: wew.... entah knapa langit ini terasa berbeda

Kalian sudah pernah mendengar tentang kebijakan langit terbuka ASEAN? Ya.. mungkin bagi kalian yang belum pernah mendengar tentang kebijakan itu akan sangat terdengar asing… aku sendiri baru tahu mengenai hal ini seminggu yang lalu, saat salah seorang dosen di kampus menjelaskan sedikit seputar perekonomian Indonesia dan masa depannya. 

Inti dari kebijakan langit terbuka ini adalah  kebebasan terbang bagi Negara-negara yang telah melakukan kesepakatan. Kebijakan ini sebenarnya sudah mulai ditetapkan sejak 2003, tapi mulai tahun ini hingga 2015 mendatang, kebijakan dengan nama beken “Open Skies Policy” ini akan dilaksanakan hingga akhirnya diberlakukan secara penuh. Semua maskapai penerbangan akan bebas terbang dan mendarat di bandara-bandara yang ada di 10 negara ASEAN termasuk Indonesia. Mendengar semua tadi, ada satu hal yang kemudian muncul di benakku “apakah Indonesia siap untuk semua ini?”


1-2: ini bandara atau stadion? mirip...

Berdasarkan info yang pernah aku baca, Indonesia sudah memiliki 26 bandara berkelas internasional. Dimana jumlah itu bisa terbilang cukup banyak bila dibandingkan dengan Negara tetangga kita singapura yang hanya memiliki satu bandara. Perihal jumlah bandara ini sudah merupakan perihal kompleks meskipun banyak orang yang bilang kalau ini menguntungkan.

Ada berbagai hal positif maupun negative yang ditawarkan oleh kebijakan ini. Dalam segi positif, maskapai kita dapat terbang ke luar dan dalam negeri dengan bebas dengan tujuan pariwisata. Negara kita yang notabene memiliki destinasi wisata yang melimpah bisa saja menjadi sentral dari “perang” yang kelak akan muncul bila hal ini benar-benar telah doterapkan secara penuh. Tapi dari sisi negative, kebijakan ini bisa saja menjadi boomerang bagi Negara kita. Indonesia sudah terkenal dengan mata yang silau akan hal-hal yang berbau luar negeri. Bahkan barang buatan local yang diberi stempel luar negeri saja bisa laris manis layaknya kacang goreng di masa keemasannya. 

1-3: dum dum dum... hanya pesawat sedang terbang

Kalau open skies sudah terlaksana, Indonesia berkemungkinan besar menjadi sasaran empuk bagi para “pemburu” luar negeri. Apalagi dengan perilaku “silau” yang kita miliki, kemungkinan pihak asing untuk menancapkan taringnya ke daging Negara ini menjadi semakin besar. Orang-orang akan lebih memilih maskapai asing dengan destinasi di luar negeri daripada maskapai local dengan arah tujuan dalam negeri. Hal tersebut bisa saja terlaksana karena biaya perjalanan mungkin akan semakin murah dengan terciptanya kebijakan ini.

Kebijakan ''Langit Terbuka'' memang telah dibarengi niat baik oleh para anggota ASEAN untuk melakukan pemasaran destinasi secara bersama seperti disepakati dari ajang ASEAN Tourism Forum di Brunei, Januari lalu. Akan tetapi, niat baik ini jangan sampai membuat Indonesia berpangku tangan, karena dalam dunia dagang, kepentingan negara sendiri tetap akan menonjol.

Alih-alih akan melakukan promosi bersama, tiap negara anggota ASEAN akan sibuk memasarkan destinasinya dan diam-diam akan menyatakan ''perang dagang destinasi wisata'' dengan anggota lain. Kasus penggunaan ikon budaya Indonesia dalam promosi pariwisata Malaysia merupakan contoh nyata. Semangat kebersamaan ASEAN patut dipegang tetapi kesadaran meningkatkan kualitas diri tidak boleh kendur.


sumber (dengan beberapa perubahan)

ASEAN Open Skies Policy



Seperti yang sudah aku bilang saat blog ini "dibangkitkan" dari tidurnya, aku akan nge-post something random, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia animu dan sebangsanya. Berhubung aku sendiri sedang tidak punya kerjaan lain, jadi aku post saja hal-hal yang berhubungan dengan kampus di sini.

Soal .museum UGM... apa kalian sudah pernah mendengar namanya? ya... sebagian besar orang mungkin sudah pernah mendengarkannya. Tapi tahukah kalian kalau UGM baru saja membuka museum baru dan sudah bisa didatangi oleh orang umum? Kalau kalian belum dengar wajar saja, karena memang informasi dari pihak pengelola sendiri sangat jarang terdengar, bahkan "masyarakat" UGM sendiri tidak tahu kalau museum ini sudah dibuka sebelum peresmiannya.

Museum ini sebenarnya sudah dibuka sejak Juni kemarin, akan tetapi sama sekali tidak terdengar kabarnya.... mungkin karena saat itu banyak pelajar yang sibuk cari sekolah dan universitas untuk melanjutkan pendidikan mereka. Peresmiannya sendiri masih bulan Desember depan, waktu yang dibilang cukup lama, dan kuharap museum ini menambahkan koleksinya sebelum peresmian. Karena setelah peresmian, biasanya jumlah pengunjung akan jauh meningkat dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Karena penasaran, aku dan beberapa temanku berjalan-jalan di museum ini. Sebenarnya kami datang untuk survey salah satu mata kuliah kami, tapi kami juga penasaran apakah museum ini sudah dibuka. Singkat kata, selama beberapa jam kami melihat-lihat ke dalam area museum, sedikit berputar-putar dan juga bermain di dalamnya (museum ternyata juga bisa buat main :v) dan memunculkan satu pertanyaan besar di antara kami... "siapa Joko Waluyo?".


Ga ding... ini cuma bercanda. Ada beberapa poin penting yang aku dapat saat mengunjungi museum ini, dan aku memikirkan beberapa cara untuk memperoleh pengunjung yang lebih banyak ke tempat ini. Karena setiap orang berbeda, maka caranya untuk menarik pengunjung juga berbeda.

Begini pemikiranku untuk meningkatkan pengunjung yang datang:

Ada beberapa cara untuk meningkatkan jumlah pengunjung ke museum.

1. Pengelolaan internal
  • Dari museumnya sendiri, ada baiknya meningkatkan jumlah barang yang ditampilkan di display. Karena jujur saja, saat aku datang, museum ini terkesan kosong... memang di beberapa ruang sudah berisi beberapa benda bersejarah. Tapi ada beberapa ruang yang kesannya tidak terpakai, kosong, bahkan belum lengkap.
  • Selain itu pihak museum bisa menambahkan media edukatif yang interaktif seperti satu layar touchscreen yang menurutku menarik di bagian tengah museum. Kenapa aku membahas ini karena aku yakin, banyak anak-anak dan orang umum yang lebih suka menggunakan media itu daripada membaca teks di dinding yang bisa dibilang terlalu monoton.
  • Menambahkan speaker yang digunakan untuk menjelaskan barang-barang apa saja yang ada di museum ini, karena aku terkadang bertanya-tanya, benda apa yang kulihat ini... karena kurangnya informasi yang ada di display. Jika menggunakan teks untuk penjelasan, jelas akan memakan waktu dan terasa membosankan.
  • Menambahkan rest area, mungkin bisa dalam bentuk kantin, atau bahkan kalau mau mengeluarkan dana lebih dalam bentuk cafe. Kalau ide ini terlaksana, pihak museum harus mengenakan harga yang wajar, dan bisa diterima oleh para pelajar sekalipun. Karena seperti yang kita tahu, untuk tempat-tempat wisata seperti ini, harga barang yang dijual bisa sangat jauh dari harga semula, dan bahkan beberapa kali lipat tergantung tempatnya. Bayangkan saja jika anda ditawarkan air mineral dengan harga 5000 rupiah... apakah anda mau beli? ngga kan :v
  • Mengatur bagaimana pengunjung mengunjungi museum. Karena bila tidak, pengunjung bisa menumpuk di salah satu sisi, sedangkan sisi lainnya kosong, tidak tersentuh sama sekali. bentuk pengaturan ini bisa dalam bentuk rute perjalanan, atau dengan menggunakan jasa guide yang dapat mengatur waktu perjalanan pengunjung.
2. Pengelolaan eksternal

Untuk yang satu ini sebenarnya lebih diarahkan ke arah pemasaran, sehingga para pengelola diharapkan meraih banyak pengunjung dengan metode yang tepat. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan, dan mungkin yang aku tulis dibawah adalah salah satu contohnya:

  • Menjalin kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitar UGM untuk datang dan belajar di museum ini. Karena museum ini merupakan salah satu tempat bersejarah yang berperan penting dalam pendidikan dan perjuangan selama periode kemerdekaan.
  • Memasarkan bila museum UGM sudah dibuka untuk umum, karena yang namanya museum sangat jarang dipasarkan ke masyarakat, kalaupun ada paling hanya sebatas spanduk/baliho yang dipasang di depan museum yang bisa dibilang kurang efektif, dikarenakan tidak semua orang melewati museum, apalagi letak museum UGM ini bisa dibilang terpencil.
  • Bisa melakukan Grand Opening saat peresmian, selain untuk memasarkan, saat itu juga bisa dimanfaatkan untuk menarik pengunjung sebanyak-banyaknya ke area museum
Segitu aja dulu deh yang aku tulis, sudah tidak ada spirit untuk melanjutkan nulis karena udah panjang banget :v

akan aku updet kalo sempet, cao





Visit UGM museum



Ngga kerasa udah lebih dari seminggu lalu aku menghadiri sebuah acara yang disebut AFAID. Kalian sudah pasti tau kan? Acara yang dibawakan oleh Danny Choo ini kembali hadir ke Indonesia setelah menuai kesuksesan yang cukup besar di tahun lalu. AFAID, singkatannya Anime Festival Asia Indonesia pada tahun ini diselenggarakan di Jakarta Convention Center, berbarengan dengan IGS dan Konferensi Maritim yang berada di sebelahnya.Sebenernya agak aneh juga… knapa promotornya ga nyewa semua JCC… takut duitnya ga cukup kali ya.

Jika kuingat kembali, acara saat itu benar-benar meriah, dimulai dari orang2 yang main kereta-keretaan dari pagi menjelang, hingga saat-saat aku harus mengakhiri ekspedisiku yang kurang lebih isinya hanya melihat-melihat dikarenakan kondisi ekonomiku yang sedang pas-pasan, maklumlah anak kos . Ah iya lupa aku omongin kalo hari itu aku jadi agen tiket dadakan :v loh kok bisa?Sebenarnya ceritanya panjang dan bisa-bisa aku jadi nulis cerpen di sini, tapi untuk mempersingkat tempat dan waktu anda yang ga sengaja nyasar di sini, saya akan cerita dikit….

Singkat kata, pagi itu aku dan rombonganku bersiap-siap untuk pergi ke JCC seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Pagi hari masih terasa dingin, sebuah suasana yang tidak kusangka bisa terjadi di tengah ibukota yang malamnya biking w buka baju saking panasnya. Terhitung pada saat itu ada beberapa ekor manusia yang sudah kelaparan akan tujuannya masing-masing di AFAID. Biar kuperkenalkan. Ada om Wahyu, salah satu guru PPL-ku waktu SMA yang ga kusangka ternyata gudang data untuk hobiku. Tujuannya kali ini adalah bertemu higher being yang bernama “chyvalle”(nama disamarkan), sori bang chyv, saya lupa nama asli anda :v. Terus ada Emye, guru PPL-ku juga dulu yang aku lupa kenapa dia ikut ke sini (smoga orangnya g abaca). Terus ada Pandu, kenalanku dari net forum internasional yang membuatku jadi lebih aktif di social media. Tujuan dia ga terlalu jauh sama tujuanku, hanya saja dia nge-loot banyak barang di AFA. Ada juga Lutfi, tuan rumah yang bersedia menampung kami berempat selama di Jakarta. Kalo ga ada dia mungkin aku dan yang lain udah nge-gembel di bundaran HI selama 4 hari 4 malem layaknya bolang (bocah ilang). Dan tak lupa aku sendiri, orang kurang kerjaan yang ikutan sama mereka. Tujuanku awalnya

hanya ingin gathering dengan grup yang kubentuk setengah tahun lalu bersama temen-temen yang kusebut di atas, that’s all… sayangnya saat itu aku ga bawa duit buat nge-loot karena ni acara sialnya jatuh pas uang bulanan gw belom cair. 

Matahari sudah beranjak naik, mengindikasikan sudah waktunya kami berangkat menuju medan perang. Dengan langkah pasti, kami pergi dengan perbekalan senjata di punggung, menuju Jakarta convention center menaiki busway. 

Tibalah kami di tempat tujuan… sebuah pemandangan yang bisa dibilang mengejutkan… jam 7, loket bahkan belum dibuka, akan tetapi antrian sudah sepanjang hamper 100 meter. Hmm… apakah orang yang ada di depan menginap untuk bisa mendapatkan tempat di sana? Entahlah… hanya dia, security dan Tuhan yang tahu kapan.



1.1-1.3: antrean AFAID di pagi hari

Skip skip skip…. Sekitar 2 jam menunggu, akhirnya kami sampai di bagian depan antrean. Keringat sudah mulai bercucuran, membasahi pakaian kami yang memang sudah dari sananya lusuh. Ada seorang pria paruh baya yang tiba-tiba datang menghampiri kami, aku merasa ada yang aneh, karena dari penampilannya aku tahu dia tidak akan mengikuti AFA. ‘what the…’ pria itu mengulurkan tangannya yang berisi lembaran uang berwarna biru ke arah emye. “19 tiket, nanti kau akan kuberikan komisi”. Kami tidak bisa menolak, karena mereka langsung menyodorkannya ke kami. Well… emye sih terima-terima aja karena sebagai anak kos, uang itu penting. Tak lama, party dari orang tersebut mengerubungi kami, menitipkan masing-masing dari kami tiket untuk dibeli. Mereka memberikan uang ke kami, jadi mau bagaimana lagi, mumpung aku lagi butuh uang untuk makan.

Skip lagi, kami masuk ke dalam, kemudian berpencar untuk melihat-lihat. JCC masih bisa dibilang sepi, karena itu kami muter-muter ga jelas sambil melihat-lihat untuk mencari sesuatu yang menarik. Tapi yang namanya realita memang kejam… kemampuan ekonomi para penduduk ibukota memang hebat, kami yang berasal dari somewhere in central java hanya bisa melongo melihat price tag yang diberikan untuk tiap item. Dafuq… uang makanku bisa abis kalo buat belanja satu barang di sini. Kalah telak, aku, emye, dan wahyu memutuskan untuk menyusuri dungeon berwujud manusia menuju underground, masuk ke creator hub dan mengikuti berbagai kegiatan di berbagai stand.

Berbagai hal terjadi, dan pastinya akan terlalu panjang kalau ditulis di sini. For the summary, tujuan kami datang ke AFA tercapai, dan kami mendapatkan satu kejutan juga, dimana para awak craneanime & Erojiji (forum yang kusebut di atas tadi) ternyata turut hadir dalam acara ini. As expected when people like us gathered, we spend our time together with loot each other’s data, talking non-sense, and shared anything we brought there. Sebagai kenang-kenangan selama main di jakarta, kami mengambil beberapa foto sebagai memento pernah datang ke acara ini dengan jumlah orang seadanya. Ga semua orang bisa hadir di event yang diadakan di saat yang bisa dibilang nanggung, alasannya sebagian besar kerena hari senin-nya universitas sudah memulai aktivitas pembelajaran. Karena itu, sebagian besar orang sudah pulang terlebih dahulu, sehingga saat "photo session" (:v) berlangsung hanya orang-orang kurang kerjaan dan berencana bolos yang terfoto seperti dibawah ini.



1.4: Gathering di AFAID 13

 1.5: Gathering di blok M keesokan harinya

Hee... baru sadar kalo ternyata tulisanku jadi panjang begini, ternyata aku emang kurang cocok kalo nulis singkat padat dan jelas. Whatever dah, that’s my summary when came to AFAID 13. Rencananya tahun depan kami akan pergi lagi dengan tim yang sama jika salah satu dari kami belum pensiun dari dunia yang adiktif ini. Semoga aja tahun depan tempatnya jauh lebih luas.Karena melihat animo masyarakat dengan event ini, tidak menutup kemungkinan akan banyaknyapengunjung di event tahun depan.

Ada yang berencana ke sana? kalo ada mungkin kita bisa bertemu di AFAID selanjutnya (semoga saja ga kalah dengan AFA Singapura yang dilangsungkan pada bulan November mendatang).


Anyway... see you next year, guys.

AFAID 2013 - Review


 Jang jang jang..... kali ini aku hadir membawa seputar info animu yang akan tayang di musim depan. Dengan kata lain, Fall animu list 2013 yang ada di ujung mataaa.

"Uooeeerrgggrrhhhh!!!"

Teriakan yang tidak jelas terdengar di tengah pemakaman yang disinari bulan purnama. Suasana yang selalu hening di tempat itu kini terusik dengan munculnya sesosok manusia yang juga tidak jelas, setara dengan suaranya yang kini mulai mereda, menyatu dengan kegelapan. Sret... sret... mahluk itu menyeret kakinya, berusaha menjauhi tempat yang ditujukan untuk orang yang telah mati. Langit yang gelap, sudah mulai sedikit berwarna biru muda, menandakan pagi telah tiba. Matahari yang tertidur mulai bangun, menampakkan tubuhnya yang indah dengan malu-malu.

Necroooo


Yosh, Ini update terakhir dari Review Anime Musim ini~
Cekidot~

Update 2 Review anime Autum 2011

- Copyright © 2013 Kiv's Note - Kurumi Tokisaki - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Redesigned by R.F.Aditya -